Jumat, 07 Maret 2014

Puisi Renungan



HARUSNYA AKU SADAR
 

*Usiaku kini mulai beranjak 19tahun*
*Tapi Aku masih tetap Menyuruh tanganku berada dibawah*
*Duduk manis dengan senyuman layaknya seorang Raja dan Ratu*
* Membuang-buang waktu dan uang hanya untuk kesenangan*
*Lupa darimana aku datang, dengan apa aku datang dan untuk apa aku datang*
*Selalu terucap dan terlihat kurangnya rasa bersyukurku*
* Membiarkan rasa iri datang terhadap manusia-manusia yang lebih dariku*
*Selalu merasa bahwa aku ingin seperti mereka*

TANPA AKU SADARI....??

^Siapa Aku Sebenarnya^
^Seperti apakah kenyataan tentang kehidupanku^
^YANG SAAT INI BARU AKU BERFIKIR DAN TELAH KU SADARI^
^Aku hidup belasan tahun, ternyata hanya melihat dan membandingkan kehidupanku dengan oranglain^
^Hanya mampu menyalahkan keadaan kenapa Aku terlahir tidak semudah oranglain^
^Yang hanya bisa menghukum orang dengan amarahku, dengan kebencianku, dan dengan kemanjaanku padahal mereka adalah yang memberikanku kehidupan*
^Tanpa melihat Mereka yang masih berusaha melawan panasnya mentari dan dinginnya hujan^
^Mereka yang Menahan kelelahan dan rasa sakit melawan kerasnya kehidupan^
^Mereka yang menahan rasa lapar dan rasa haus demi memperoleh sesuap nasi untukku^
^Yang selalu Menyimpan sejuta wajah kepalsuan demi kebahagiaanku^
_Tapi apa Aku berfikir akan itu_
_Apa Aku melihat akan itu_
_Apa Aku menyadari akan itu_
*Dan Sejujurnya memang tidak*

^Aku begitu Malu^
^Aku begitu Bodoh^
^Maafkan Aku Ayah __-__Ampuni Aku Ibu^


^Aku selalu menyalahkan kalian^
^Aku selalu Merasa Kurang dengan apa yang telah kalian Berikan^
^Tanpa aku sadari betapa besarnya Kerja keras kalian^
^Tanpa Aku mengerti betapa sulitnya mencari sebuah nafkah^
^Dan tanpa Aku menoleh betapa perihnya sebuah pengorbanan^
*Kini Aku sadar*
^Aku layaknya seorang pecundang^
*Jika Aku tak menghargai sebuah arti Kehidupan*


Karya: Etrik Maesaroh




Minggu, 02 Maret 2014

PUISI 2



DIBALIK JILBABMU

Paras cantikmu seakan kau bagaikan bidadari tak bersayap.
Tutur katamu nan elok bagai wanita berlisptikan madu.
Lekuk tubuhmu nan indah berlapiskan kain sutra.
Dan bayangan rambut terurai dibalik lipatan jilbabmu.

Para kurcaci kehidupan tak kuasa mengalihkan tatapan tajam.
Membiarkan penglihatan tak menyatukan rumput kecil yang memagar lembut.
Membiarkan sebuah gua rongga terbuka mengalirkan cairan es meleleh.
Yang seakan terbuai dalam jerat pesonamu.

Wahai Kau Wanita Berjilbab.....
Tahukah kau akan sejuta pesona yang kau taburkan disetiap tatapanmu.
Mengertikah kau akan arti kain yang melapisi benang hitam hingga jemari pijakanmu.
Sadarkah kau akan gurauan apa yang kan terucap dunia terhadapmu.

Tapi kini...
Dunia megetahui, telah kecewa terhadapmu.
Dunia memahami, telah terluka olehmu.
Dunia menyadari, telah salah menilaimu.

Untuk apa kau lapiskan sejuta kain sutra ditubuhmu.
Untuk apa kau lantunkan elok setiap tutur katamu.
Jika kau hanya bermain layaknya kupu-kupu malam.
Jika kau hanya berlari layaknya seorang pecundang.
                                               
                        Karya              : ETRIK MAESAROH

Jumat, 28 Februari 2014

PUISI




MATI DALAM MIMPI

Ketika Pagi Menggantikan sang Malam
Ketika Mentari mulaiMenghangatkan Tubuh dari Kedinginan
Mencoba Beranjak dari Terbaringnya Tubuh ini
Berlari dan Menghampiri Jendela Gubuk yang terpancar Sinar Sang Fajar
Memegang erat barisan besi hitam yang memagar
“,,”
Kemudian Meratakan Wajah Kedepan tempat Penglihatan
Mengangkat Dagu keatas tempat Khayalan
Dan akhirnya Menundukan Kepala kebawah tempat Pijakan
Merasakan sipenggerak dan sipelangkah terkunci gelang alumunium putih
Seakan terasa berada diJeruji Besi Teror Kehidupan
“,,”
Hembusan Nafas terasa terpenggal dalam dada ini
Alunan Suara Merdu terasa terkunci dalam mulut ini
Derasnya aliran airmata membahasi pipi dari sudut ke sudut
Kerasnya Suara Panggilan yang semakin menusuk masuk gendang telinga
Yang belum sempat dimengerti kenapa tubuh ini terasa mati
“,,”
Mungkinkah ini hanya sebuah mimpi
Sepertinya tidak, karena sulit terbangun dari tidur buruk ini
Ataukah ini adalah sebuah kenyataan
Sepertinya tidak, karena sulit menggerakan tubuh ini
Wahai Pencipta Kemanakah Raga ini dan Kau Jadikan Apa semua ini
“,,”
Jantung yang terasa Tak berdetak menghentikan waktu
Mata yang terasa tak Berkedip menjauhkan pandangan
Mulut yang terasa tak Terucap menghilangkan Pemahaman
Dan Tubuh yang terasa tak Bergerak menunda setiap perjalanan
Hingga Terkulai Pasrah menanti apa yang akan terjadi
. . .

                                                Karya               : Etrik Maesaroh